PELAJARAN
DARI PERJALANAN ISLAM
DI SILUNGKANG
Khusus Untuk Warga Silungkang
Edisi 1, Jakarta, September 1989
Penulis : Munir Taher dan Hasan St. Maharajo
Penerbit : Malowe Sapakat Jakarta
Percetakan :
Terima kasih yang terhingga kepada semua yang telah memberi bantuan sehingga karya “Pelajaran dari Perjalanan Islam di Silungkang” ini dapat diselesaikan dan dapat terbit seperti yang berada di tangan sanak saudara. Semoga amal semua sanak saudara itu akan mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Allah, Ya Robbalalamin.
SEPATAH KATA DARI PENERBIT
Tidak secara kebetulan bila para pemuka agama Islam di Silungkang sejak tahun 1984 telah melancarkan kritik dan otokritik secara terbuka berkenaan dengan kemunduran agama Islam di Silungkang. Kritik dan otokritik itu tertuang melalui makalah alim ulama Silungkang, serta makalah KAN dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta pada bulan April 1986. kemudian pada tahun 1987 Sharief Sulaiman (Alm) menyampaikan laporan tentang masyarakat Silungkang di kampung dan laporan pertanggung jawaban Pengurus PKS Jakarta yang disampaikan dalam Rapat Anggota PKS tanggal 26 Juli 1987.
Kritik dan otokritik mengenai kehidupan agama di Silungkang ini adalah semacam pengalaman Mamangan orang tua kita, yaitu “Upek maiduiki, puji mambunuah” (kecaman menghidupi, puji membunuh). Tak dapat disangkal sementara orang awak tentu ada yang keberatan atau tidak dapat menerima kritikan apalagi melakukan otokritik. Pendirian sementara orang awal demikian nantinya tentu akan berubah juga, sesuai dengan panggilan zaman.
Kita dapat belajar dari perkembangan NU, yang selama ini kultur kyai juga tak dapat menerima kritik apalagi melakukan otokritik. Ternyata melalui halaqah (semacam sarasehan) selama 3 hari di bulan Juli 1989 para kyai mengakui pemahaman kitab dikalangannya hanya bersifat tekstual. Kurang mampu mengaitkan dengan persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Konsep mengenai ibadah mash terpaku pada qasirah (manfaat dirasakan sendiri), belum mutaaddi (manfaat untuk orang banyak (Kompas, 21 Juli 1989).
Dengan tujuan untuk dapat membangkitkan kembali kehidupan beragama di Silungkang maka Munir Taher dan Hasan St. Maharajo menuangkan kritik dan otokritik pemuka agama Silungkang itu dalam sebuah karyanya “Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang”. Semoga dengan orang awak mengenai kritik dan otokritik tersebut akan tergugah untuk secara aktif berpartisipasi memajukan agama Islam di Silungkang.
Amin !
Jakarta, Awal Agustus 1989
Malowe Sepakat Jakarta
PENGANTAR KALAM
Bismillahhirohmanir rohiim
Sembari mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT serta salawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kami persembahkan tulisan karyanya “Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang” kehariban pembaca yang arif bijaksana dan budiman. Dengan harapan semoga sumbangan tulisan ini ada faedahnya bagi kemajuan Islam di Silungkang khususnya, di Indonesia umumnya.
Kami menyadari sepenuhnya akan keterbatasan pengetahuan kami mengenai masalah yang kami ketengahkan. Menyadari keterbatasan itulah yang mendorong kami untuk belajar dan membaca sebanyak-banyaknya tentang masalah yang dibahas baik melalui buku-buku, makalah-makalah, catatan-catatan, maupun dari kenyataan-kenyataan yang hidup. Sebagai buah dari belajar dan membaca itulah, maka tulisan ini dapat kami ketengahkan seperti yang sekarang.
Kami mengisyafi ada saja kemungkinan kami keliru dalam menarik kesimpulan dari hasil belajar atau membaca itu. Dan jika hal itu terjadi, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami. Untuk menghindari, atau paling sedikit guna mengurangi kemungkinan kekeliruan tersebut, maka sebelum tulisan ini masuk kepercetakan kami meminta pertimbangan kepada beberapa saudara, diantaranya Sdr-Sdr Ifkar Latif, Dra. Rusfa, H. Aziz Burhan.
Terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan kepada saudara-saudara Ifkar Latif, Dra. Rusfa dan H. Azis Burhan yang telah bersedia membaca manuskrip yang akan kami serahkan untuk dicetak. Ketiga saudara tersebut telah mengemukakan saran-saran yang berharga, yang lebih memperlengkapi isi Risalah yang kami susun ini.
Sdr. Ifkar antara lain mengemukkan beberapa hadis dan ayat Al Qur’an untuk lebih memperkuat isi risalah.
Sedang Dra. Risfa disamping mengemukkan dapat menerima pandangan-pandangan yang kami kemukakan tentang masalah mundurnya pengamalan Islam di Silungkang dan sebab-sebab mundurnya serta usaha yang ditempuh untuk menanggulangi kemunduran itu juga dapat menerima tentang perlunya meneliti sejarah keislaman di Silungkang dan membangkitkan keislamanan itu kembali sehingga memakai dunia untuk kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.
Dra. Rusfa menyarankan antara lain sebagai berikut :
- Menghidupkan kembali surau-surau di Silungkang dengan cara setiap surau dipimpin oleh seorang guru tetap yang akan mengajar agama kepada anak-anak, pemuda dan orang dewasa.
- Setiap anak-anak orang Silungkang baik yang tinggal di kampung maupun di rantau supaya pandai membaca Al Qur’an dengan fasih.
- Setiap orang Silungkang supaya pandai mengurus jenazah, mulai dari memandikannya, mengapani, menshalatkannya sampai menguburinya. Juga mengerti cara-cara serta doanya. Ini merupakan satu kurikulum diseluruh surau-surau yang ada di Silungkang. (Ada baiknya jika cara dan doa-doanya dicetak dan disebarkan kepada setiap keluarga untuk dipelajari dan dihafal serta dilatihkan disurau).
- Menyesuaikan adat Silungkang dengan ajaran Islam. Mana-mana yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus ditinggalkan agar kita hidup kita diberkati Allah. Misalnya dalam hal berpakaian. Agar setiap remaja putri dan orang dewasa berpakaian muslimat dimanapun ia berada. Hal ini harus dipimpin oleh kaum bapak kepada keluarganya masing-masing dan dikuatkan oleh keputusan Ninik Mamak dari KAN (Kerapatan Adat Nagari) dalam pelaksanaannya. Setiap remaja putri dan ibu-ibu harus memakai busana muslim dan mencerminkan seorang Islam yang baik.
- Pada akhir Dra. Rusfa mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah mengemukakan buah pikirannya berbentuk risalah “Pelajaran dari Perjalanan Islam di Silungkang”. Mudah-mudahan risalah ini akan menggugah para ulama, cerdik pandai, ninik mamak serta seluruh warga Silungkang.
Dra. Rusfa juga mengharapkan agar PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) dapat membiayai pendidikan agama (misalnya biaya pada Pondok Pesantren) bagi anak Silungkang yang berbakat jadi ulama.
Bila Dra. Rusfa mengemukakan saran-sarannya agar terperinci, maka H. Azis Burhan berpendapat : untuk dapat mengembalikan citra Silungkang dibidang agama yang telah menurun itu, perlu didirikan lembaga pendidikan agama (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan lain-lain) di Silungkang.
Mendirikan lembaga pendidikan agama ini tidak mudah. Ia memerlukan dana, sarana/perlengkapan, tenaga, administrasi, pengajar/pendidik (guru) dan lain-lain. Menurut H. Azis Burhan rasanya di zaman sekarang ini tidak sanggup diadakan oleh masyarakat saja. Karena itu perlu ada usaha memohon kepada Departemen Agama (bagian pendidikan) di Kabupaten / Propinsi / Pusat untuk membantunya. keberhasilan usaha tersebut banyak tergantung dari cara pengurusannya oleh kita.
Bila sekolah Agama negeri di Silungkang bisa didirikan, tentu sama bebannya (termasuk biaya) menjadi tanggungan pemerintah. Paling-paling prasarannya saja yang kita sediakan, yaitu ruangan-ruangan belajarnya. Ruangan-ruangan yang telah ada sekarang dapat dipergunakan.
H. Azis Burhan juga mengimbau agar warga Silungkang yang mengaku muslim / mukmin hendaknya senantiasa memantapkan iman/islam, karena iman didada kita itu tidak tetap, tidak stabil, selalu berubah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad : “Wah huwa yazidir way an zushi” (iman itu kadang-kadang naik, kadang-kadang menurun, kadang-kadang menebal, tempo-tempo menipis). Nabi menganjurkan kepada kita : “Jaddidu imanikum” (Baharui, baharui iman kamu itu !).
Untuk membaharui, menguatkan iman itu, dimana ada kesempatan/waktu yagn terulang baca Al Quran / Hadist Rasul, dengari/hadiri pengajian-pengajian agama dan jangan sekali-sekali dibuang percuma waktu senggang, isi dengan amal/iman, jauhi tempat-tempat maksiat.
Nabi bersabda : barang siapa yang hari ini imannya/amalnya sama saja dengan hari kemari, terkutuk hidupnya ; barang siapa yang hari ini imannya/amalannya sama saja dengan hari kemarin, tertipu hidupnya ; barang siapa yang hari imannya/amalannya lebih baik dari hari kemarin, berbahagialah hidupnya dunia dan akhirat.
Mari kita renungkan sabda Nabi/Rasulullah tersebut di atas. Demikian H. Azis Burhan. Selain daripada itu kami (penulis) risalah juga sangat mengharapkan tegur dan sapa dari pembaca yang budiman atas risalah kami yang sederhana ini, yang dimana mungkin terdapat kekeliruan/kesalahan yang tidak kami sengaja, mungkin susunan tata bahasanya yang kurang tepat, kata-kata yang janggal, yang kurang berkenan dihati. Semuanya ini karena keterbatasan kami. Semoga Allah SWT senantiasa menambah ilmu kami.
Dengan tegur dan sapa dari pembaca yang budiman, semoga dimasa mendatang dapat kami memberikan sumbangan pikiran yang lebih baik lagi bagi kemajuan Islam di negeri kita.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah koleksi kebudayaan tertulis yang telah kita mulai dan guna membantu menimbulkan sikap positif dari generasi Silungkang mendatang dan menempatkan diri dalam wawasan yang lebih luas.
Jakarta, Medan Juli 1989
Kami (Penulis)
Munir Taher & Hasan St. Maharajo
Pelajaran Dari Perjalanan Islam Di Silungkang (Part . 01) | Silungkang Dalam Sejarah