Rakyat Inggris punya kisah Robin Hood, seorang bandit yang rela mencuri dan hasilnya dibagikan ke rakyat miskin. Namun, Nusantara juga punya banyak cerita serupa. Salah satunya dari tanah Silungkang.
Pada awal abad ke-20, di bawah kekuasan kolonial Belanda, Silungkang merupakan pusat perdagangan dan pertambangan. Meski ekonominya tumbuh dengan pesat, tetapi banyak rakyatnya yang hidup miskin.
Namun, pada awal abad ke-20 itu juga, kemajuan perdagangan turut serta membawa pikiran-pikiran dari pulau Seberang, dari Islamisme hingga Marxisme.
Pada tahun 1915, Sulaiman Labai, seorang saudagar muslim terpelajar, mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang. Tiga tahun kemudian, ia mulai mempelopori perlawanan terhadap peraturan-peraturan kolonial yang membatasi pengangkutan beras.
Saat itu, karena tekanan kemiskinan dan kolonialisasi, banyak rakyat Sawahlunto yang terancam kelaparan. Ironisnya, kereta pengangkut beras justru hilir-mudik melintasi Silungkang untuk mengantarkan beras bagi pejabat Belanda dan administratur tambang di Ombilin, Sawahlunto.
Saat itu, sebagian besar rakyat Silungkang sedang dilanda kelaparan. Namun, ironisnya, kereta-kereta pengangkut beras belanda tidak pernah berhenti hilir-mudik melewati Silungkang.
Tergetar marah melihat ketidakadilan itu, Sulaiman pun merancang aksi. Pada tahun 1918, Sulaiman Labai dan puluhan anggotanya menyetop kereta pengangkut beras di stasiun Silungkang. Mereka kemudian memaksa Kepala Stasiun menurunkan dua gerbong beras.
Tak mau mengambil resiko, Kepala Stasiun yang tak punya banyak pilihan hanya menuruti. Sulaiman dan pengikutnya kemudian menggotong pergi beras-beras itu. Dan layaknya si Robin Hood, beras-beras itu dibagikan kepada rakyat.
Menariknya, setiap penerima beras gratis itu diminta membuat surat tanda terima.
Ternyata, itu taktik Sulaiman. Dengan dalih situasi darurat, ia membagi-bagikan beras kepada rakyat yang terancam kelaparan. Dan surat tanda terima itu merupakan pernyataan bahwa Sulaiman akan membayar beras-beras itu suatu hari nanti.
Taktik Sulaiman itu berhasil. Dia memang ditangkap, tetapi kemudian dibebaskan setelah menginap di penjara selama beberapa hari. Ia dianggap tidak mencuri karena pertimbangan situasi darurat.
Namun, kisah Robin Hood ala Sulaiman Labai sudah terlanjur menarik simpati rakyat Silungkang. Mereka terpukau dengan keberanian dan kecerdasan aktivis SI itu. Dan, karena kisah kepahlawanan, rakyat Silungkang berlomba-lomba mendaftar sebagai anggota SI.
SI cabang Silungkang pun berkembang pesat. Selain memimpin SI, Sulaiman Labai juga memimpin koran kiri: Panas. Tetapi, sangat sedikit sumber tentang koran ini dan sepak terjang Sulaiman Labai di dalamnya.
Dilansir Dari Artikel Raymond Samuel