Kisah Silungkang Artikel Perang Rakyat Silungkang 1927

Perang Rakyat Silungkang 1927

Lambang Pemberontakan Rakyat Silungkang

Dengan tenang dia bisa menikmati singgasana Residen Kedua di Padang pasca kemerdekaan. Berbeda dengan rakyat yang ditindasnya dulu, para pejuang dan turunannya harus berjuang jatuh bangun demi mempertahankan citra diri.

Karena perbuatan Demang Rusad inilah rakyat Silungkang merasa malu sekarang, karena di belakang perang Rakyat Silungkang diberi embel-embel sebagai yang diorganisasi bersama-sama dengan PKI.3)

Issue itu harus dibantah dengan menyodorkan bukti-bukti yang layak oleh seluruh warga Silungkang.

MELUPAKAN

Bagi rakyat yang terjajah tindak tanduknya harus selalu dijaga agar tidak menyalahi peraturan-peraturan yang dibuat oleh si penjajah. Kalau berani melanggarkan berarti menerima satu perlakuan yang kejam dari si penjajah dan di Indonesia penjajah itu adalah Pemerintah Kolonial Belanda.

Cara apapun ditempuh oleh penjajah, intimidasi, teror dan paksaan-paksaan agar si terjajah tunduk dan tidak bisa melawan. Rakyat Indonesia ratusan tahun lamanya ditindas seperti ini termasuk juga rakyat Silungkang. Hal ini menyebabkan rasa takut yang berlebih-lebihan hingga menimbulkan suatu anggapan bahwa berurusan dengan pejabat hukum sudah merupakan aib dan tabu. Lebih-lebih apabila mendapat hukuman badan langsung saja dicap sebagai penjahat.

Tak peduli apapun perbuatan yang dilakukannya, baik karena berbuat untuk diri sendiri untuk orang banyak atau untuk satu perjuangan kemerdekaan. Cap ini diturunkan pula pada anak cucunya dan selalu saja dibumbui dengan cerita-cerita negatif tentang orang itu. Bagi masyarakat seperti Silungkang hal itu sangat mengerikan dan menjadikan malu berkepanjangan.

Ada sebuah cerita lucu bagaimana masih banyaknya orang Indonesia yang setelah masa penyerahan kedaulatan dan merdekapun yang tidak mengerti artinya merdeka itu dan tentu lebih-lebih lagi pra tahun 1927.

Pada suatu rapat raksasa yang biasa diadakan tiap-tiap 17 Agustus di depan Istana Merdeka massa telah berkumpul. Selain yang dikerahkan tentu banyak pula yang datang atas kemauannya sendiri, seperti biasanya puncak acaranya pidato Bung Karno. Di antaranya terselip seorang tua yang berasal dari pinggiran kota Jakarta.

Betapa hebatnya pidato Bung Karno tak sedikitpun orang tua itu tertarik dan mengacuhkannya. Sehingga menarik perhatian seorang pemuda yang berdiri di dekatnya. Karena tertarik akhirnya pemuda mencoba menanyain sebab-sebab tidak tertarik sama sekali pada pidato Bung Karno itu.

Bertanya pemuda itu : “Bapak, apakah Bapak tidak tertarik pada pidato Bung Karno ini, Pak !”

Jawab orang itu : “Dari tadi saya memperhatikan pidato itu, tapi saya heran.”

“Apa yang Bapak herankan ?” tanya pemuda itu.

“Bung Karno dari tadi pidato tentang kemerdekaan melulu, coba anak tanyakan pada beliau itu, kapan kita ini merdekanya.”

Bukan dimaksud lelucon ini untuk menyebabkan tertawa tapi untuk menunjukkan apa yang tersirat dari lelucon ini bahwa setelah berlalu sekian tahun kemerdekaan itu masih banyak rakyat Indonesia yang tidak mengerti yang dimaksud dengan merdeka itu sebenarnya. Sudah pasti pada tahun 1927 itu di Silungkang lebih banyak lagi yang tidak mengerti. Apa gunanya berjuang untuk merdeka jika perjuangan hanya menimbulkan/menyebabkan kesengsaraan. Tanpa kemerdekaan toh penghidupan telah berjalan sesuai dengan garisnya, garis yang telah ditentukan Tuhan.

Jadi dari uraian di atas bisa dilihat mengapa rakyat Silungkang itu berusaha melupakan peristiwa tragis dari kekalahan perang 1927, ialah karena :

a. Takut

b. Malu

c. Tidak Mengerti

a. Takut

Ketika peristiwa 1927 mengalami kegagalan total. Bencana yang tadinya tidak pernah diperhitungkan menjadi kenyataan yang sangat pahit. Penangkapan, penganiayaan, penistaan mencapai puncaknya hingga untuk mengingatnya saja orang sudah tidak mampu. Traumanya membekas sangat dalam. Hingga tidak pernah kita mendengar di sekolah di Silungkang, baik Silungkang belum merdeka dan sesudah merdeka. Melupakan itulah satu-satunya diusahakan.

b. Malu

Anggapan masyarakat bahwa orang yang pernah terhukum badan sebagai penjahat menyebabkan rasa malu terutama bagi para pejabat pemerintahan pada masa 1927. Tak ada alasan apapun untuk memanfaatkan mereka itu, sekalipun jelas-jelas apa yang mereka lakukan adalah satu perjuangan di jalan Illahi dan yang diperjuangkan adalah hari esok yang lebih baik. Mereka (pejabat-pejabat itu) mencoba melupakan akibat yang jelek dari perang yang gagal itu.

Pejabat-pejabat takut mereka-mereka itu mengulangi lagi perbuatan-perbuatan mereka yang menurut pandangan pejabat-pejabat itu memalukan dan kalau dipakai istilah sekarang sebagai penganggu stabilitas kampung halaman. Pejabat-pejabat itu tak berani mengusir mereka secara kasar tetapi diusahakan secara halus dengan antara lain membebaskan dari rodi/uang serayo asal mereka mau pergi merantau.4)

Bagi bekas para pejuang yang telah kembali dari pembuangan, uang serayo/rodi merupakan tambahan penghinaan bagi mereka, sebab hal itulah salah satu yang diperjuangkan lenyapnya sehingga terpaksa menjalani hukuman.

Bagi satu masyarakat seperti Silungkang yang waktu itu masih sangat terikat pada kaumnya pergi keluar wilayahnya sendiri bukanlah hal yang enak. Lebih-lebih pada permulaan tahun 1930 itu momoh malaise sedang mengancam perekonomian seluruh dunia dan tentunya Indonesia yang pada waktu itu masih disebut Hindia Belanda tak ketinggalan. Hingga selain bagi yang terlempar dari kampung halaman berjuang memperbaiki kehidupan ekonominya merupakan hal yang sangat berat, bagi anak isterinya lebih berat lagi.

Banyak yang akhirnya terpaksa pulang kampung dengan beban mental yang lebih berat karena kenyataan bahwa mereka-mereka itu tak dapat meraih apa yang diharapkannya.

c. Tidak Mengerti

Inilah akibat yang paling fatal dari segala macam usaha Rakyat Silungkang dalam usahanya untuk tidak teringat pada Perang Rakyat Silungkang 1927.

Ketidak mengertian bahwa dengan mencetuskan Perang Rakyat Silungkang 1927, rakyat telah menuliskan sejarah dan masuk dalam deretan para pejuang-pejuang yang mencoba merampas kembali kemerdekaannya dari penjajah Belanda yang telah bercokol ratusan tahun lamanya.

Tidak mengerti bahwa pejuang-pejuang itu hanya berumur pendek dan sejarah itu tak bisa berakhir sekalipun rakyat yang melahirkan pejuang-pejuang itu telah punah seluruhnya. Setiap kali ada orang-orang yang akan mengkaji kembali dan memberikan atau menambahkan versi baru pada sejarah itu.

Tiap kali ditambahkannya kebenaran-kebenaran yang pada waktu lalu belum terungkap.

Karena ketidak mengertian itu maka bukti-bukti otentik tentang perjuangan besar rakyat Silungkang telah hilang begitu saja. Sehingga segala issue negatif yang timbul sesudah perang itu tidak bisa disangkal dengan persiapan bukti otentik. Selalu timbul keraguan tentang kebenaran dari perjuangan yang telah meminta nyawa, harta, benda dan air mata. Kesalahan ini tidak hanya dibuat oleh Rakyat Silungkang saja tetapi juga oleh suku-suku Indonesia lainnya.

LUPA

Dimuka kita telah menandai tiga persoalan yang oleh RS lupa dibahas dan disoroti secara layak selama ini. Belum pernah ditarik kesimpulan yang seragam tentang ketiga persoalan ini.

Juga belum pernah sumber tentang PRS yang ada di Silungkang dan yang telah dianggap sebagai kebenaran dibandingkan dengan sumber-sumber otentik yang memang telah terbaku kebenarannya. Kita catat kembali ketiga persoalan itu.

a. Siapa yang menggerakan perang ini ?

b. Apa sebab terjadi perang ini ?

c. Apa tujuan yang akan dicapai oleh perang ini ?

Ketiga persoalan di atas saling berkaitan karena itu untuk membicarakannya secara terpisah sama sekali sangatlah sulit. Tapi disini tetapi akan dicoba sejauh hal itu memungkinkan.

a. Siapa Yang Menggerakkan Perang Ini ?

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas kita harus kembali ke tahun 1908 yang oleh bangsa Indonesia dicatat sebagai permulaan bangkitnya kesadaran Bangsa Indonesia tentang martabatnya sebagai manusia dan bangsa. Peristiwa ditandai dengan didirikannya organisasi Budi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 oleh R. Soetomo, dan kawan-kawan di Jakarta.

Tujuan dari organisasi ini tidak tegas-tegas digariskan tetapi terasa sekali dititik beratkan pada peningkatan pendidikan terutama di Jawa dan Madura.

Boedi Oetomo berpendapat bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka budi pekertinya akan bertambah baik pula dan dengan demikian kesadarannya sebagai manusia dan bangsa akan bertambah tinggi pula.

Kehadiran Boedi Oetomo tahun 1908 itu sebenarnya telah didahului oleh sebuah organisasi lainnya yang terutama bergerak di bidang perdagangan, yaitu Sarekat Dagang Islam tahun 1905 di Solo oleh Bapak H. Samanhudi. Pada tahun 1911 organisasi Dagang Islam ini dilebur menjadi Sarekat Islam yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto dan cendikiawan Islam.5)

Berdirinya Sarekat Islam ini adalah satu isyarat bagi Muslim Indonesia bahwa saatnya telah tiba untuk tampil kepermukaannya sebagai satu kekuatan sosial, ekonomi dan politik untuk melawan sistem jajah dan terjajah.

Ditinjau dari anggaran dasarnya SI ini bukanlah organisasi yang mempunyai tujuan politik dan ketata-negaraan tapi dalam sepak terjangnya di masyarakat jelas jangkauan politik dan ketata negaraannya ada.

Dalam periode pertamnya SI ini mencanangkan tindakan-tindakan gagah berani dari sistem jajah-terjajah. Hal ini menyebabkan para anggotanya selalu siap bertempur habis-habisan demi membela nusa, bangsa serta agama dari segala penghinaan dan segala kecurangan.6)

Dengan manuver demikian itu serta ditambah lagi dengan sifat terbukanya organisasi SI ini dengan mau menerima anggota dari seluruh lapisan masyarakat jadilah organisasi ini sebagai organisasi massa yang pada Kongres Nasional 1916 di Bandung telah punya 80 (delapan puluh) cabang yang tersebar di seluruh Nusantara dengan anggota aktif + 400.000,- (empat ratus ribu orang).7)

Karena dalam waktu yang singkat SI telah menjadi satu organisasi yang besar dan tersebar luas di Indonesia maka kendala yang dihadapi Serikat Islam menjadi besar pula. Kendala-kendala itu dapat kita bagi dua menurut dari mana asal datangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post